Selasa, 21 Oktober 2014

Memanfaatkan Kekuatan Pikiran Bawah Sadar

Apa saja yang kita dapatkan hari ini, baik disadari maupun tidak, sebenarnya merupakan hasil
dari proses kekuatan alam bawah sadar kita. Memang tidak banyak orang yang menyadari bahwa
dengan menggunakan dan mengelola alam bawah sadar akan menghasilkan kekuatan yang tidak
terhingga. Yakinlah apa yang kita dapatkan hari ini sebenarnya sudah pernah kita bayangkan
sebelumnya atau pernah terlintas dalam otak, imajinasi, atau bahkan dalam mimpi walau hanya
sesaat. Sudah tentu bukan berarti menjadikan kita hanya sebagai pengkhayal tanpa melakukan
kegiatan atau aktivitas apa pun.
Goerge W. Ladd, seorang ahli ekonomi dari Iowa State University yang menulis buku berjudul
Artistic Research Tools for Scientific Minds, mengemukakan suatu pemikiran yang menarik
melalui proses mental bawah sadar berupa imajinasi dan intuisi yang dapat membantu kemajuan
usaha. Proses mental bawah sadar dapat membantu kita melaksanakan kegiatan sehari-hari.
Banyak gagasan berasal dari proses pikiran bawah sadar, namun tidak semua orang bisa
memanfaatkannya. Kerugian yang didapat bila pikiran/gagasan yang muncul saat ini tidak segera
dimanfaatkan adalah pikiran/gagasan tersebut belum tentu muncul lagi di masa yang akan
datang.
Menggunakan kekuatan yang terfokus pada keinginan untuk merasakan suatu kesenangan atau
kesengsaraan mampu menimbulkan energi dahsyat dalam hidup. Pertanyaannya adalah apakah
Anda sudah dapat membayangkan kesenangan dan kesengsaraan di masa depan yang secara
emosional mampu menggerakkan motivasi diri Anda?

Motivasi Berprestasi

Jika Anda adalah pengusaha, sangat penting untuk mengenal setiap kekuatan dan kelemahan
yang terdapat dalam diri Anda. Karena setiap manusia memiliki kekuatan dan kelemahan, akan
sangat baik bagi kita untuk menutup kelemahan tersebut dengan menonjolkan kekuatan. Dan,
kekuatan maupun kelemahan sebenarnya adalah faktor-faktor yang dapat mendorong
pencapaian cita-cita dan tujuan.
Semakin seseorang meyakini bahwa dirinya dapat mengelola berbagai kekuatan dan kelemahan,
maka semakin yakin ia bahwa dirinya dapat mewujudkan suatu prestasi. Meyakini makna prestasi
adalah meyakini bahwa diri telah mengenal cara-cara mengembangkan kekuatan-kekuatan yang
ada.
Memahami kekuatan dan kelemahan diri sendiri serta mau melakukan hal-hal untuk
meningkatkan prestasi merupakan modal dasar pengusaha. Konsekuensinya, pengusaha harus
mampu mawas diri dan mau serta mampu mengatasi kendala yang dihadapi dalam pengenalan
diri.
Tidak menutup diri dan melakukan komunikasi yang efektif dapat menjadi umpan balik sampai
seberapa jauh upaya mengenal diri sendiri telah dilakukan dengan tepat. Perilaku diri sendiri
perlu dideteksi, baik melalui psikotes atau melakukan proses penyadaran diri sendiri, sehingga
kadar motivasi prestasi dapat diidentifikasi.
Mengembangkan pribadi wirausaha identik dengan mengembangkan perilaku wirausaha, yaitu
melalui langkah awal mengenali diri sendiri beserta kendala yang dihadapi. Ciri-ciri pribadi
wirausaha yang berhasil adalah:
a. Berorientasi pada tindakan dan memiliki motif yang tinggi dalam mengambil risiko untuk
mengejar tujuan.
b. Dapat mendayagunakan kekuatan-kekuatan yang dimiliki dan mengurangi kelemahankelemahan
yang ada.
c. Mempunyai perilaku yang agresif dalam mengejar tujuan atau berorientasi pada tujuan dan
hasil.
d. Mau belajar dari pengalaman dalam menjalankan perusahaan dari waktu ke waktu.
e. Memupuk dan mengembangkan pribadi unggul secara terus-menerus.
Para ahli mengemukakan bahwa seseorang memiliki minat berwirausaha karena adanya suatu
motif, yaitu motif berprestasi. Motif berprestasi adalah suatu nilai sosial yang menekankan pada
hasrat untuk mencapai hasil terbaik guna memperoleh kepuasan pribadi.

Mengubah Pola Pikir

Merubah sesuatu yang telah menjadi kebiasaan tidaklah mudah serta membutuhkan kerja keras
dan banyak pengorbanan, apalagi menyangkut pola pikir dari seorang individu. Pandangan hidup,
adat kebiasaan, persepsi, hingga perilaku, dipengaruhi oleh perjalanan yang sangat panjang, baik
secara keturunan (hereditas) maupun lingkungan.
Namun, sudah menjadi kodrat bahwa perubahan terjadi secara alamiah dalam diri manusia, ada
yang revolusioner (radical change) maupun evolusi (incremental change). Jadi, perubahan
bukanlah kata yang menakutkan dan membahayakan. Justru ketika sudah tidak merasa nyaman
pada lingkungan sebelumnnya, kita akan perpindah ke tempat baru yang dapat memberikan
kenyamanan lebih baik. Perpindahaan yang dimaksud bukan hanya secara fisik, namun dalam
konteks pemikiran atau pola pikir, karena setiap perilaku dikendalikan oleh pikiran.

Mengubah pola pikir memerlukan keberanian dan kerelaan, karena tanpa itu semua tidak akan
terjadi perubahan apa-apa. Dengan bahasa yang tegas, Dr. Rhenald Kasali, pakar manajemen
Universitas Indonesia, pernah mengatakan "berubah atau mati!" la memberikan sinyal bahwa
setiap pengusaha yang mau tetap bertahan harus melakukan perubahan demi perubahan atau
akan tertinggal dari para pesaingnya. Sinyal tersebut juga harus kita tangkap untuk melakukan
introspeksi apakah selama ini kita tidak mau melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, atau
sebaliknya, kita sudah selangkah lebih maju dalam menggapai kesuksesan.
Sejak terlahir ke bumi, kita senantiasa berada dalam daerah aman dan nyaman (comfort zone).
Orang tua yang sangat perhatian dan memberikan perlindungan merupakan comfort zone yang
pertama kita peroleh ketika terlahir di dunia ini.
Apakah keadaan demikian akan terjadi sampai kita besar? Secara alamiah, orang tua akan
melepaskan anaknya secara bertahap ketika mereka sekolah, kuliah, bekerja, dan berbisnis.
Tanpa disadari, sebenarnya kita telah keluar-masuk dari comfort zone satu ke comfort zone
berikutnya. Dan, risiko yang akan selalu kita hadapi setiap keluar dari comfort zone adalah
ketidaknyamanan, bahaya, dan ancaman. Karier, bisnis, dan berbagai dimensi lainnya dalam
hidup kita akan terus bertumbuh, sama seperti fisik tubuh. Dengan demikian, sebenarnya
mencoba untuk bertahan dalam suatu comfort zone akan sia-sia karena alam semesta memiliki
mekanismenya sendiri untuk mengeluarkan kita dari comfort zone tersebut.

Mitos-Mitos Penghambat Prestasi Pengusaha

Segudang prestasi didapatkan melalui belajar dan kerja keras yang didorong oleh motivasi diri
yang kuat untuk meraih sukses sejak masa remaja. Bahkan, disebutkan pendidikan menjadi kunci
sukses keluar dari kesulitan dan dapat memberikai pengetahuan yang lebih dalam meraih
keberhasilan usaha.
Oleh karena itu janganlah Anda percaya akan mitos-mitos seputar wirausaha misalkan ada yang
mengatakan bahwa wirausaha dihasilkan dari bakat dan keturunan atau wirausaha diawali dengan
memiliki uang yang banyak. Semua hal tersebut sebenarnya hanyalah karena kurangnya
pemahaman kita tentang kewirausahaan. Sebenarnya, akal pikiran, karsa, semangat,
kesempatan, waktu, pendidikan, dan pengalaman merupakar benda abstrak yang dijadikan
Sikap dan Perilaku Kerja Prestatif
sebagai modal yang tak ternilai serta sangat menentukar keberhasilan dalam berbisnis dan hidup
bermasyarakat.Telah banyak riset yang dilakukan oleh para peneliti untuk memahami munculnya kewirausahaan,yang hasilnya memberikan pemahaman dan kebenaran bahwa mitos-mitos tersebut tidak boleh dipercaya. Berikut disajikan beberapa mitos yang selalu kita dengar di tengah masyarakat. Mitos: Wirausaha merupakan bakat dan keturunan Bakat memang dapat membantu seseorang menjadi pengusaha, namun bukanlah satu-satunya
penentu untuk menjadi pengusaha. Kenyataannya, banyak pengusaha dapat meraih kesuksesan
yang diawali oleh adanya keterpaksaan dan kondisi hidup yang sulit, serta banyak pula
pengusaha sukses bukan karena faktor keturunan. Sebagai contoh, pemilik Griya Bersih Sehat Ir.
Haryono (Alumnus Teknik Sipil ITB) yang mengembangkan usahanya sampai ke negara
tetangga, bukanlah berasal dari keturunan keluarga pengusaha.
Mitos: Pengusaha adalah pelaku, bukan pemikir
Banyak yang beranggapan bahwa pengusaha adalah pelaku yang langsung menjalankan usaha
di lapangan. Padahal, pengusaha merupakan pelaku sekaligus pemikir. Penekanan untuk
mematahkan mitos ini akan dijelaskan pada pembahasan perencanaan "bisnis, dimana terdapat
satu indikasi bahwa "pemikiran" wirausaha adalah sama pentingnya dengan "melakukan"
wirausaha. Wirausaha harus memiliki kecakapan dalam mempersiapkan bisnisnya dengan
strategi, taktik, dan cara yang semuanya harus diputuskan berdasarkan pemikiran yang
mendalam meski terdapat keputusan intuitif yang bisa saja dijalankan Dr. Moeryati Soedibjo,
pemilik Mustika Ratu, telah berhasil mengembangkan obat dan tanaman tradisional menjadi
komoditi internasional, bahkan beliau pun masih sanggup menyelesaikan studi S3 di usianya
yang ke-70.
Mitos: Wirausaha tidak bisa diajarkan atau dibentuk
Dewasa ini, bagaimanapun, pengenalan kewirausahaan sebagai suatu disiplin ilmu dapat
membantu mengusir mitos ini. Seperti semua disiplin ilmu lain, kewirausahaan mempunyai
model, proses, dan studi kasus yang menjelaskan bahwa karakteristik kewirausahaan
sebenarnya dapat diciptakan. Ciri-ciri keagresifan, prakarsa, pengarah, kesanggupan
menanggung risiko, kemampuan analisis, dan keterampilan dalam hubungan antarmanusia dapat
diajarkan. Contohnya adalah Dr. Ir. H. Wahyu Saidi, seorang pengusaha yang belajar sampai
strata tiga yang ternyata sukses dengan Bakmi Tebet dan Bakmi Langgaranya. la pun banyak
membuat buku dan seminar untuk membagi ilmu serta pengalamannya kepada orang lain.
Mitos: Pengusaha adalah selalu sebagai investor
Pendapat yang menyatakan bahwa pengusaha adalah mereka yang bertindak sebagai investor
atau orang yang menyetorkan modalnya tidak salah, namun akan menjadi salah apabila hal
tersebut dianggap sebagai satu-satunya, sebab seorang investor juga harus memiliki perilaku
yang inovatif. Meskipun seseorang pada awalnya tidak mampu menjadi investor, jika la memiliki
kemampuan inovasi yang baik, maka kemampuan tersebut dapat pula dijadikan modal yang
dapat menggantikan sumber daya uang sebagai investasi. Sebagai contoh, Made (Edam Burger)
semula menjual burger orang lain, namun berkat kerja kerasnya lama-kelamaan ia bisa memiliki
pabrik roti burger sendiri dengan omzet mencapai Rp 30 juta per hari.
Mitos: Pengusaha membutuhkan keberuntungan
Pada "tempat dan waktu yang tepat" selalu terdapat keberuntungan, tetapi yang pasti
"keberuntungan" terjadi ketika sudah dilakukan persiapan untuk menemukan peluang. Pengusaha
disiapkan untuk menangkap peluang, dan ketika peluang itu muncul, sering kali dipandang
sebagai "keberuntungan." Sebenarnya akan lebih baik jika melakukan persiapan terlebih dahulu
untuk menghadapi berbagai peluang yang pasti akan terjadi dan pandai memanfaatkan
momentum. Apa yang muncul sebagai keberuntungan tadi sebenarnya membutuhkan suatu
persiapan, penetapan tujuan, keinginan kuat untuk mencapainya, pengetahuan, dan inovasi yang
dikemas dalam sebuah konsep perencanaan. Eka Tjipta Wijaya, pemilik Sinar Mas Grup,
menceritakan bahwa kesuksesannya didapat berkat belajar di pinggir jalan. Peluang yang dimanfaatkannya, mulai dari menjual kopi di pinggir jalan sampai menjadi kontraktor kuburan di
Sulawesi Selatan, mengantarkannya menjadi salah satu konglomerat di negeri ini.
Mitos: Pengusaha harus selalu sukses dan tidak boleh gagal
Persepsi ini sangat keliru, karena pengusaha yang sukses selalu membangun bisnisnya dengan
jatuh bangun dan banyak yang mengalami kegagalan. Merupakan hal yang wajar bila pengusaha
mengalami sejumlah kegagalan sebelum meraih kesuksesan. Mereka mengikuti pepatah jika
pada mulanya gagal, maka Anda harus berani mencoba, mencoba, dan terus mencoba sampai
berhasil. Sebenarnya, kegagalan memberikan banyakpelajaran kepada mereka yang
berkeinginan untuk terus belajar dan sering justru mengarahkan seseorang mencapai kesuksesan
di masa mendatang. Bob Sadino, bos agrobisnis dan supermarket Kemchick yang sudah kenyang
makan asam garam dan jatuh-bangun dalam menjalankan bisnisnya, mengawali kariernya
sebagai supir taksi, kuli bangunan, dan menjual telor ayam secara keliling.
Mitos: Pengusaha adalah sama seperti penjudi
Pengusaha tidak dapat dikatakan sama dengan penjudi. Semua hal berkenaan dengan usaha
pasti tidak terlepas dari sebuah risiko, dari risiko kecil sampai besar. Seorang penjudi terkadang
tidak dapat menghitung risikonya dan mendapatkan kemenangan hanya dari keberuntungan,
sedangkan pengusaha mendapatkan keuntungan atau-kesuksesan dari menghitung risiko.
Pengusaha akan berhasil bila mengawali usahanya dengan kerja keras melalui perencanaan dan
persiapan yang matang untuk memperkecil risiko. Hari Dharmawan, pendiri dan pemilik ritel
besar 'Matahari,' selalu berpegangan bahwa pengetahuan dan kemampuan mengelola bisnis,
termasuk menghitung risiko yang mungkin terjadi di masa depan, harus dimiliki setiap
pengusaha. Karena hal tersebut memungkinkan usaha apa pun yang dirintis bisa tumbuh dan
berkembang menjadi besar.

Kepribadian Wirausaha

Penelitian Cunningham terhadap 178 wirausaha dan manajer profesional di Singapura,
menunjukkan bahwa keberhasilan wirausaha berkaitan dengan sifat-sifat kepribadian (49%),
seperti keinginan untuk melakukan pekerjaan dengan baik, keinginan untuk berhasil, memotivasi
diri dan berpikir positif, komitmen, dan sabar. Temuan serupa juga dicatat oleh peneliti lain.
Plotkin misalnya, menyebut sifat kreatif dan rasa ingin tahu, mengikuti perkembangan teknologi
dan dapat menerapkannya secara produktif, energi yang melimpah, dan asertif.
Para peneliti seperti Cunningham, Pekerti, Meng & Liang, Kotter, Huck, dan Gosh
menyatakan kemampuan untuk berhubungan dengan pelanggan juga sangat menentukan
keberhasilan usaha.
Kemampuan memahami lingkungan bisnis merupakan 15% penentu keberhasilan. Itu
mencakup kemampuan untuk (1) belajar dari pesaing; (2) rasa tertarik pada industri; (3)
pengetahuan tentang bidang usaha; (4) kemauan untuk belajar; (5) pengalaman dalam industri;
(6) pengetahuan tentang produk dan jasa; serta (7) pemahaman tentang persaingan.
Selain itu kemampuan untuk mengembangkan dan mempertahankan kemajuan teknologi
merupakan faktor yang menyebabkan 28,1% keberhasilan usaha skala kecil. Faktor ini terkait
erat dengan sifat-sifat kepribadian dan kemauan untuk belajar dan menerima perubahan.
Keberhasilan usaha juga sering dikaitkan dengan tingkat pendidikan, pengalaman, dan
usia. Faktor pendidikan lebih sering dikaitkan dengan keberhasilan usaha. Sedang kan faktor
pengalaman usaha dinyatakan berpengaruh pada keberhasilan. Tetapi penelitian lain menyatakan
bahwa pengalaman tidak berpengaruh pada keberhasilan. Menurut Staw, usia tidak terlalu terkait
dengan keberhasilan dalam mengelola usaha. Usia baru terkait dengan keberhasilan bila yang
dimaksud adalah entrepreneurial age, yaitu seberapa lama seseorang menjadi wirausaha.
Berdasarkan hasil-hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar
keberhasilan usaha, khususnya usaha kecil, sangat ditentukan oleh faktor wirausaha. Kepribadian
wirausaha merupakan faktor utama, menyusul sesudahnya faktor kemampuan, faktor teknologi,
dan faktor lain.
Sifat kepribadian yang paling banyak dibahas oleh para ahli, dalam kaitan dengan
wirausaha, adalah sifat kreatif dan inovatif. Holt menggarisbawahi bahwa agar dapat menjadi
wirausaha yang berhasil, dua syarat harus dipenuhi, yaitu orang tersebut harus kreatif dan
inovatif. Khusus dalam hal inovatif, harus dipraktekkan secara sistematik atau terencana .
Menurut ahli Psikologis, wirausaha adalah seseorang yang memiliki dorongan kekuatan dari
dalam untuk memperoleh sesuatu tujuan, suka mengadakan eksperimen atau untuk
menampilkan kebebasan dirinya diluar kekuasaan orang lain.
Sukardi menyebutkan bahwa ada sembilan ciri psikologik dari 34 ciri atau karakteristik
yang selalu tampil pada perilaku wirausaha yang berhasil. Ada kesamaan temuan tentang
karakteristik wirausaha yang berhasil (hasil penelitian yang dilakukan oleh East West Center
Hawaii, MEDEC Malaysia, IMM India, UPI Manila, LPT UI Jakarta dan DTC ITB Bandung).
Kesembilan karakteristik atau ciri tersebut adalah:


1. Perilaku instrumental, yaitu selalu berusaha tanggap dalam berbagai situasi untuk
memanfaatkan segala sesuatu yang ada di lingkungannya, untuk membantu mencapai tujuan
pribadi dalam berusaha. Dia selalu mencari segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk
memperbaiki kinerjanya.

2. Perilaku prestatif, yaitu selalu berusaha tampil lebih baik, lebih efektif, dibandingkan dengan
hasil yang dicapai sebelumnya. Dia selalu berbuat yang lebih baik, tidak pernah puas dengan
hasil yang dicapai sekarang. Selalu membuat target yang lebih baik dan lebih tinggi dari
sebelumnya. Baginya keberhasilan atau kegagalan pencapaian prestasi dianggap sebagai
feedback.
3. Perilaku keluwesan bergaul, yaitu selalu berusaha untuk cepat menyesuaikan diri dalam
berbagai situasi hubungan antar manusia, selalu aktif bergaul dengan siapa saja dalam rangka
memperluas usahanya. Membina kenalan-kenalannya, dan mencari kenalan baru serta
berusaha untuk dapat terlibat dengan mereka yang ditemui dalam kegiatan sehari-hari. Dia
senantiasa berpenampilan ramah, akomodatif terhadap berbagai ajakan untuk berdialog.
4. Tingkah laku kerja keras, yaitu dalam berusaha selalu terlihat dalam situasi kerja. Tidak
mudah menyerah sebelum pekerjaan selesai. Tidak membiarkan waktu tanpa bekerja,
mencurahkan segala pekerjaannya dan mempunyai tenaga untuk terus menerus terlibat dalam
pekerjaan.
5. Perilaku keyakinan diri, yaitu optimisme dalam bekerja, ia yakin bahwa pekerjaannya akan
memberikan hasil. Dia percaya akan kemampuan diri, tidak ragu-ragu dalam bertindak. Dia
akan berusaha melibatkan diri secara langsung dalam berbagai situasi. Bersemangat tinggi
dalam bekerja, dan berusaha secara mandiri untuk menemukan alternatif jalan keluar dari
masalah-masalah yang dihadapi.
6. Perilaku pengambilan risiko, yaitu tidak khawatir berhadapan dengan situasi yang serba tidak
menentu, di mana usahanya belum tentu membawa keberhasilan. Dia berani mengambil risiko
kegagalan. Selalu melakukan antisipasi terhadap adanya kemungkinan-kemungkinan untuk
gagal. Segala tindakannya diperhitungkan dengan cermat.
7. Perilaku swa-kendali (Personal control), yaitu dia benar-benar menentukan apa yang harus
dilakukan dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Selalu mengacu pada kekuatankelemahan
pribadi dan batas-batas kemampuan dalam berusaha. Dia selalu menyadari benar
bahwa melalui pengendalian diri maka kegiatan-kegiatannya dapat lebih terarah pada
pencapaian tujuan. Dengan pengendalian diri, ia dapat memutuskan kapan dia harus bekerja
lebih keras dan kapan dia harus berhenti untuk meminta bantuan pada orang lain.
8. Perilaku inovatif, yaitu selalu berusaha mencari cara-cara baru yang lebih bermanfaat.
Terbuka untuk gagasan, pandangan, dan penemuan baru yang bermanfaat untuk peningkatan
kinerjanya. Tidak terpaku pada masa lalu. Berpandangan ke depan untuk mencari cara-cara
baru atau memperbaiki cara-cara yang biasa dilakukan orang lain untuk peningkatan
usahanya.
9. Perilaku kemandirian, yaitu selalu mengembalikan segala yang ia lakukan sebagai tanggung
jawab pribadi. Keberhasilan atau kegagalan dikaitkan dengan tindakan-tindakan pribadinya.
Dia lebih menyenangi kebebasan dalam mengambil keputusan untuk bertindak dan tidak mau
tergantung pada orang lain.
Para ahli mengakui bahwa peranan perilaku wirausaha sangat berpengaruh terhadap
kesuksesan seorang pengusaha dalam mengelola dan mengatur jalan usahanya. Berdasarkan
penelitian para ahli membuktikan bahwa perilaku wirausaha merupakan salah satu variabel yang
mempengaruhi keberhasilan seorang pelaku usaha.

Berbakatkah Anda Berwirausaha

Bahwa setiap orang berpotensi menjadi wirausaha tidak berarti hal itu akan terjadi dengan
sendirinya. Setiap orang harus membuat keputusan untuk menjadi apapun yang dicita-citakannya
sesuai pengenalan terhadap bakat, talenta dan potensi dirinya masing-masing.
Apakah Anda berpotensi untuk menjadi wirausaha handal? Saya tidak tahu. Tetapi bila Anda
bertanya-tanya apakah Anda dapat mengetahui seberapa jauh Anda berpotensi, mampu atau
berbakat untuk menjadi wirausaha handal, maka cobalah menjawab sejumlah pertanyaan berikut:
1. Apakah Anda lebih suka bekerja dengan para ahli untuk mengejar prestasi?
2. Apakah Anda tidak takut mengambil risiko, tetapi akan berusaha berusaha menghindari risiko
tinggi bila dimungkinkan?
3. Apakah Anda cepat mengenali dan memecahkan masalah yang dapat menghalangi
kemampuan Anda untuk mencapai tujuan?
4. Apakah Anda tidak akan mengijinkan kebutuhan akan status mengganggu misi bisnis Anda?
5. Apakah Anda rela berkorban dan bersedia bekerja dengan jam kerja yang panjang untuk
membangun bisnis Anda?
6. Apakah Anda memiliki rasa percaya diri yang tinggi untuk mencapai keberhasilan?
7. Apakah Anda tidak membolehkan hubungan emosional mengganggu bisnis Anda?
8. Apakah Anda menganggap struktur organisasi sebagai satu halangan untuk mencapai
sasaran yang Anda inginkan?
Jika semua pertanyaan itu Anda jawab dengan "Ya", maka Anda memiliki profil seorang
wirausaha sejati. Paling tidak demikianlah menurut David E. Rye, pakar kewirausahaan yang
mengajarkan hal itu di Universitas Colorado, Amerika Serikat. Tetapi memiliki profil wirausaha
belum berarti Anda akan sukses berwirausaha. Sebab sukses sebagai wirausaha itu ditentukan
oleh sejumlah ciri-ciri lainnya.
Cobalah mengidentifikasi apakah Anda memiliki ciri-ciri sukses yang menonjol untuk menjadi
wirausaha handal dengan menanyakan pada diri Anda pertanyaan-pertanyaan berikut :
1. Apakah saya ingin mengendalikan semua hal yang saya lakukan?
2. Apakah saya menyukai aktivitas yang menunjukkan kemajuan yang berorientasi pada tujuan?
3. Apakah saya mampu memotivasi diri sendiri dengan suatu hasrat yang tinggi untuk berhasil?
4. Apakah saya cepat memahami rincian tugas yang harus diselesaikan untuk mencapai
sasaran yang saya tetapkan?
5. Apakah saya akan menganalisis semua pilihan yang tersedia untuk memastikan
keberhasilannya dan meminimalisasi risikonya?
6. Apakah saya mengenali pentingnya hidup pribadi saya dalam hubungannya dengan usaha
yang saya tekuni?
7. Apakah saya selalu mencari suatu cara yang lebih baik untuk melakukan suatu pekerjaan?
8. Apakah saya selalu melihat pilihan-pilihan yang tersedia untuk mengatasi setiap masalah
yang mungkin menghadang?
9. Apakah saya tidak takut mengakui kesalahan bila ternyata saya memang keliru?
Bila semua pertanyaan di atas Anda jawab dengan "Ya", maka makin jelaslah potensi
kewirausahaan dalam diri Anda. Tetapi untuk menyempurnakan keyakinan Anda, cobalah
menjawab kembali pertanyaan-pertanyaan berikut ini :
1. Sukakah Anda bertanggung jawab terhadap situasi tertentu dan mengambil keputusan
sendiri?
2. Apakah Anda menikmati persaingan dalam suatu lingkungan bisnis yang kompetitif?
3. Apakah Anda secara individual mampu mengarahkan diri sendiri dengan disiplin diri yang
kuat?
4. Sukakah Anda merencanakan masa depan dan secara konsisten berusaha mencapai tujuan
atau sasaran pribadi Anda?
5. Apakah Anda cukup mampu memanajemeni waktu dan sering menyelesaikan tugas-tugas
secara tepat waktu?
6. Jika Anda mulai berwirausaha, siapkah Anda untuk menurunkan standar hidup sampai usaha
Anda menghasilkan pemasukan yang cukup kokoh?
7. Apakah kesehatan Anda cukup baik dan apakah stamina fisik Anda cukup kuat untuk bekerja
dalam rentang waktu yang panjang?
8. Dapatkah Anda mengakui bila melakukan kekeliruan dan menerima nasehat dari orang lain?
9. Jika bisnis Anda gagal, siapkah Anda untuk kehilangan semua kekayaan?
10. Apakah Anda memiliki kestabilan untuk bekerja dalam tekanan dan penuh ketegangan?
11. Dapatkah Anda dengan cepat menyesuaikan diri dengan perubahan dan melaksanakan
perubahan bila diperlukan?
12. Apakah Anda seorang yang berinisiatif untuk memulai dan bekerja sendiri tanpa bergantung
pada orang lain (self-starter)?
13. Dapatkah Anda mengambil keputusan dengan cepat dan tidak menyesali keputusan buruk
yang mungkin Anda ambil?
14. Apakah Anda mempercayai orang lain dan apakah mereka juga mempercayai Anda?
15. Apakah Anda dapat memahami bagaimana memecahkan masalah dengan cepat, efektif, dan
dengan penuh keyakinan?
16. Dapatkah Anda mempertahankan suatu sikap yang positif meskipun dalam menghadapi
kemalangan?
17. Apakah Anda seorang komunikator yang baik dan dapatkah Anda menjelaskan ide-ide Anda
dalam kata-kata yang dapat dipahami orang lain?
Jika semua pertanyaan itu lagi-lagi Anda jawab dengan "ya", maka sekali lagi menurut David
Kewirausahaan 18

Rye, sempurnalah potensi kewirausahaan dalam diri Anda. Tetapi bila dari 17 pertanyaan terakhir
4 atau lebih Anda jawab dengan "Tidak", maka sebaiknya Anda kembali memikirkan niat Anda
untuk menjadi wirausaha.
Saya percaya bahwa teknik berdialog dengan diri sendiri dengan menggunakan berbagai
pertanyaan seperti di atas sangat berguna untuk lebih mengenali potensi diri seseorang. Apalagi
bila hal itu disusun berdasarkan suatu pengalaman dan diperkaya dengan studi atau penelitian
khusus dengan metode yang ketat.
Masalahnya, saya juga percaya bahwa sebagian orang cenderung menilai dirinya secara tidak
proporsional. Ia bisa menilai dirinya serba mampu, serba baik, dan serba hebat (superior), atau
justru serba tidak mampu dan banyak kelemahan (inferior). Belum lagi kenyataan yang
menunjukkan bahwa potensi setiap orang itu dapat berkembang dari waktu ke waktu. Lewat
proses belajar secara berkesinambungan orang dapat meningkatkan kualitas pribadinya dan
mengalami keajaiban-keajaiban dalam hidupnya.
Karenanya, apa pun jawaban yang Anda berikan terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas, ijinkan
saya untuk menyederhanakan semua itu menjadi satu saja, yakni : apakah Anda benar-benar
ingin berwirausaha, sekalipun belum tentu Anda akan berhasil dan sekalipun Anda harus bekerja
keras menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan, serta sekalipun Anda harus selalu berusaha
untuk bangkit dari kegagalan-kegagalan yang bertubi-tubi? Jika Anda menjawab "Ya" terhadap
pertanyaan tunggal ini, maka tak perlu ragu untuk mencobanya. Sebab hal itu berarti Anda telah
membuat sebuah keputusan yang penting bagi masa depan Anda sendiri. Dan untuk menciptakan
masa depan Anda sendiri, setidaknya hal ini disarankan oleh Michael Dell, adakalanya Anda tidak
perlu mendengarkan apa yang orang lain katakan tidak mampu Anda lakukan. Just do it (lakukan
saja). Jangan biarkan orang lain mendikte hidup Anda. Cobalah mengecap suatu kenikmatan
khusus untuk melakukan apa yang justru dianggap orang tidak mampu Anda lakukan.

Kompetensi Kewirausahaan

Dengan memiliki beberapa keterampilan dasar di atas, maka seseorang akan memiliki
kemampuan (kompetensi) dalam kewirausahaan. Ada 10 kompetensi yang harus dimiliki
wirausaha, yaitu: (Dan & Bradstreet Business Credit Service, 1993: 1).
(1) Knowing your business, yaitu harus mengetahui usaha apa yang akan dilakukan. Seorang
wirausaha harus mengetahui segala sesuatu yang ada hubungannya dengan usaha atau
bisnis yang akan lakukan. Misalnya, seorang yang akan melakukan bisnis perhotelan maka ia
harus memiliki pengetahuan tentang perhotelan. Untuk bisnis pemasaran komputer, ia harus
memiliki pengetahuan tentang cara memasarkan komputer.
(2) Knowing the basic business management, yaitu mengetahui dasar-dasar pengelolaan bisnis,
misalnya cara merancang usaha, mengorganisasi dan mengendalikan perusahaan, termasuk
dapat memperhitungkan, memprediksi, mengadministnasikan dan membukukan kegiatankegiatan
usaha. Mengetahui manajemen bisnis beranti memahami kiat, cara, proses, dan
pengelolaan semua sumber daya secara efektif dan efisien.
(3) Having the proper attitude, yaitu memiliki sikap yang benar terhadap usaha yang
dilakukannya. Ia harus bersikap sebagai pedagang, industriawan, pengusaha yang sungguhsungguh,
dan tidak setengah hati.
(4) Having adequate capital, yaitu memiliki modal yang cukup. Modal tidak hanya berbentuk
materi, tetapi juga moril. Kepercayaan dan keteguhan hati merupakan modal utama dalam
usaha. Oleh karena itu, harus cukup waktu cukup uang, tenaga, tempat, dan mental.
(5) Managing finances effectively, yaitu memiliki kemampuan mengatur/ mengelola keuangan
secara efektif dan efisien, mencari sumber dana dan menggunakannya secara tepat, serta
mengendalikannya secara akurat.
(6) Managing time efficiently, yaitu kemampuan mengatur waktu seefisien mungkin. Mengatur,
menghitung, dan menepati waktu sesuai dengan kebutuhannya.
(7) Managing people, yaitu kemampuan merencanakan, mengatur, mengarahkan, menggerakan
(memotivasi), dan mengendalikan orang-orang dalam menjalankan perusahaan.
(8) Satisfying customer by providing high quality product, yaitu memberi kepuasan kepada
pelanggan dengan cara menyediakan barang dan jasa yang bermutu, benmanfaat, dan
memuaskan.
(9) Knowing how to compete, yaitu mengatahui strategi/cara bersaing. Wirausaha, harus dapat
mengungkap kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan
ancaman (threat) dininya dan pesaing. Ia hanus menggunakan analisis SWOT baik terhadap
dininya maupun terhadap pesaing.
(10) Copying with regulations and paperwork, yaitu membuat aturan/pedoman yang jelas
(tersurat, tidak tersirat).
Di samping keterampilan dan kemampuan, wirausaha juga harus memiliki pengalaman yang
seimbang. Ada 4 (empat) kemampuan utama yang diperlukan untuk mencapai pengalaman yang
15 Kewirausahaan SMK/MAK Kelas X/10
© <2012> @RuS Publishing
seimbang agar kewirausahaan berhasil, yaitu :
(1) Technical competence, yaitu memiliki kompetensi dalam bidang rancang bangun (know-how)
sesuai dengan bentuk usaha yang akan dipilih. Misalnya, kemampuan dalam bidang teknik
produksi dan desain produksi. Ia harus betul-betul mengetahui bagaimana barang dan jasa itu
dihasilkan dan disajikan.
(2) Marketing competence, yaitu memiliki kompetensi dalam menemukan pasar yang cocok,
mengidentifikasi pelanggan dan menjaga kelangsungan hidup perusahaan. Ia harus mengetahui
bagaimana menemukan peluang pasar yang spesifik, misalnya pelanggan dan harga khusus yang
belum dikelola pesaing.
(3) Financial competence, yaitu memiliki kompetensi dalam bidang keuangan, mengatur
pembelian, penjualan, pembu-kuan, dan perhitungan laba/rugi. Ia harus mengetahui bagaimana
mendapatkan dana dan menggunakannya.
(4) Human relation competence, yaitu kompetensi dalam mengembangkan hubungan personal,
seperti kemampuan berelasi dan menjalin kemitraan antar-perusahaan. Ia harus mengetahui
hubungan inter-personal secara sehat.
Menurut Ronald J. Ebert (2000: 117) bahwa efektivitas manajer perusahaan tergantung pada
keterampilan dan kemampuan. Keterampilan dasar manajemen (Basic Management Skill)
tersebut meliput:
(1) Technical skill, yaitu keterampilan yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas khusus,
seperti sekretaris, akuntan-auditor, dan ahli gambar.
(2) Human relations skill, yaitu keterampilan untuk memahami, mengerti, berkomunikasi, dan
berelasi dengan orang lain dalam organisasi.
(3) Conceptual skill, yaitu kemampuan personal untuk berpikir abstrak, untuk mendiagnosis dan
untuk menganalisis situasi yang bembeda, dan melihat situasi luar. Ketram-pilan konseptual
sangat penting untuk memperoleh peluang pasar baru dan menghadapi tantangan.
(4) Decision making skill, yaitu keterampilan untuk merumus-kan masalah dan memilih cara
bertindak yang terbaik untuk memecahkan masalah tersebut. Ada tiga tahap utama dalam
pengambilan keputusan, yaitu:
(a) Merumuskan masalah, mangumpulkan fakta, dan mengidentifikasi alternatif pemecahannya.
(b) Mengevaluasi setiap altemnatif dan memilih alternatif yang terbaik.
(c) Mengimplementasikan alternatif yang terpilih, menin-daklanjutinya secara periodik, dan
mengevaluasi ke-efektifan yang telah dipilih tersebut.
(6) Time management skill, yaitu keterampilan dalam menggunakan dan mengatur waktu
seproduktif mungkin.
Wirausaha yang sukses pada umumnya ialah mereka yang memiliki kompetensi, yaitu meliputi
sikap, motivasi, nilai serta tingkah laku yang diberikan untuk melaksanakan pekerjaan.
Wirausahawan tidak hanya memerlukan pengetahuan tapi juga ketrampilan, tetapi memiliki
pengetahuan dan ketrampilan saja tidaklah cukup. Wirausahawan harus memiliki sikap positiaf,
motivasi, dan selalu berkomitmen terhadap pekerjaan yang sedang dilakukan/dikerjakannya.
Kopetensi diartikan sebagai pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan individu (personality)
yang langsung berpengaruh pada kinerja.
Secara keseluruhan beberapa hal yang diterangkan di atas, dapat dijelaskan bahwa : Intellectual
Capital = Competance x Comitment, artinya meskipun ia memiliki tingkat penge-tahuan yang
tinggi apabila tidak disertai dengan komitmen yang tinggi, maka wiraushawan tidak akan dapat
menggunakan modal intlektualnya. Demikian juga dengan Competence = Capabelity x Authority,
artinya bahwa wirausaha yang kompeten adalah wirausahawan yang memiliki kemampuan dan
wewenang sendiri dalam penglolaan usahanya (kemandirian). Wirausaha selalu bebas
menentukan usahanya, tidak tergantung pada orang lain. Selanjutnya, Capabelity = Skill x
Knowladge, artinya bahwa kapabilitas wirausahawan sangat ditentukan oleh pengetahuan dan
ketrampilan atau kecakapan. Pengetahuan, ketampilan atau kecakapan yang dilengkapi dengan
sikap dan motovasi untuk selalu berprestasi membentuk kepribadian wirausaha.
Dalam dunia bisnis, yang disebut kompetensi inti (core copentency) adalah kreativitas dan inovasi
guna menciptakan nilai tambah untuk meraih keunggulan, yang tercipta melalui pengembangan
pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan. Pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan
Kewirausahaan 16

merupakan kopetensi inti wirausahawan untuk menciptakan daya saing khusus agar memiliki
posisi tawar-menawar yang kuat dalam persaingan.
Dalam mengelola usaha, wirausaha dituntut mengelola semua aspek kegiatan meliputi 6 M, yaitu
:
1. Man (SDM) : pengalaman, tidak birokrasi, mandiri, dinamis, ulet, cepat tanggap dan
fleksibel.
2. Money (Dana) : sumber dana yang mencukupi.
3. Materials (Bahan) : bahan yang dibutuhkan untuk proses produksi.
4. Machine ( Mesin) : Peralatan/mesin yang memadai.
5. Methods (Cara Kerja): cara kerja yang tepat dan efektif.
6. Markets (Pasar) : menciptakan pasar bagi barang hasil produksi.
Banyak ahli yang mengemukakan karakteristik kewirausahaan dengan konsep yang berbedabeda.
Geoffrey G. Meredith (1996:5-6) mengemukakan ciri-ciri dan watak kewirausahaan,
sebagai berikut :
No. Ciri-ciri Watak
1 Percaya diri Keyakinan, ketidak tergantungan, individualitas, dan
optimisme.
2 Berorientasi pada tugas dan
hasil
Kebutuhan untuk berprestasi, berorientasi laba,
ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras
mempunyai dorongan kuat, energik dan inisiatif.
3 Berani mengambil resiko dan
suka tantangan
Kemampuan untuk mengambil resiko yang wajar.
4 Kepemimpinan Perilaku sebagai pemimpin, bergaul dengan orang
lain, menanggapi saran-saran dan kritik.
5 Keorisinilan Inovatif dan kreatif serta fleksibel.
6 Berorientasi kemasa depan Pandangan ke depan, perspektif.
Selain beberapa hal yang diuraikan tersebut di atas, kewirausahaan meliputi kemampuan
merumuskan tujuan dan memotivasi diri, berinisiatif, kemampuan membentuk modal dan
mengatur waktu, mental yang kuat dan kemampuan untuk mengambil hikmah dari pengalaman.

Total Tayangan Halaman

Arsip Blog